Minggu lalu saya dan keluarga melakukan ziarah ke makam beberapa Wali.
Perjalanan di mulai dengan mengunjungi makam Mbah Bungkul di kawasan Taman Bungkul Surabaya. Mbah Bungkul adalah mertua dari Sunan Ampel. Disana suasana masih sepi, maklum baru selesai lebaran. Setelah sholat Isya, perjalanan dilanjutkan ke makam Sunan Ampel di kawasan Ampel yang merupakan kampung arab terbesar di Surabaya. Di sana banyak peziarah yang datang dari berbebagai penjuru kota. Di Kompleks Makam Sunan Ampel terdapat juga makam Mbah Bolong yang menurut cerita dapat melihat Ka'bah dari Masjid Sunan Ampel pada saat menentukan arah kiblat Masjid. Selain itu juga terdapat makam Mbah Soleh yang jumlah makamnya berjajar 9.
Pukul 20.00 rombongan bergerak menuju makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Perjalanan cukup cepat melewati jalan tol yang sepi. Setelah itu perjalanan di lanjutkan ke makam Sunan Giri yang terletak di puncak bukit. Wah lumayan capek juga melewati sekitar 100 anak tangga. Sebenernya di deket makam Sunan Giri ada juga makam Sunan Prapen, namun karena lokasinya agak terpencil dan jalannya gelap gulita, maka rombongan hanya ziarah di makam Sunan Giri.
Sekitar pukul 22.00 perjalanan dilanjutkan ke makam Sunan Drajat yang ada di Paciran, Lamongan. Lokasinya tidak jauh dari lokasi Wisata Bahari Lamongan Tanjung Kodok.
Pukul 00.00, rombongan bubar jalan. Ngantuk berat rasanya.
Biasanya ziarah ke makam para Wali/ Alim Ulama dilakukan oleh warga NU, sedangkan warga Muhammadiyah jarang melakukannya, hal ini disebabkan adanya perbedaan pemahaman. Saya sendiri bukan termasuk NU dan Muhammadiyah.
Setelah menjalani berbagai ziarah saya baru menyadari bahwa dalam kematian ada kehidupan. Lho koq....
Lihatlah para Alim ulama yang namanya harum semerbak walaupun telah meninggal ratusan tahun silam bahkan makamnya saja bisa memberikan kehidupan bagi warga. Hal ini beda banget dengan para pencoleng negeri ini yang sewaktu hidup menyusahkan rakyat sehingga setelah matipun nasibnya seperti di sinetron Hikayat....hi.... serem
Selasa, Oktober 31, 2006
Kamis, Oktober 12, 2006
Mudik ke......
Lebaran sudah mulai mendekat, pemburuan tiket pun menjadi semakin sengit. Sejak awal Ramadhan, berita pemburuan TIKET MUDIK selalu menghiasi halaman surat khabar nasional. Ya...Mudik telah menjadi tradisi yang sangat kuat di negeri kita tercinta. Orang rela bermalam di depan loket hanya untuk mendapatkan selembar tiket. Bahkan harga tiket yang melonjak 100% pun tidak menjadi halangan bagi orang untuk melakukan mudik.
Mengapa orang rela bersusah payah untuk mudik ke kampung halaman ? Daya tarik apakah yang membuat orang untuk ingin mudik ? Orang tua, kakek-nenek, saudara, teman lama, nostalgia mungkin menjadi salah satu alasan untuk mudik. Kalo sedikit kita renungkan, mungkin yang mendorong orang untuk mudik adalah hubungan yang indah dan harmonis antara pemudik dengan orang tuanya, kakek-neneknya, saudaranya, temannya dan kenangan yang indah dengan kampung halamannya.
Tanpa adanya hubungan yang harmonis maupun kenangan yang indah, saya kira orang akan enggan untuk mudik. Ngapain mudik kalo hanya untuk bertengkar dengan saudara atau membuka luka lama.
Seandainya kita mempunyai hubungan yang harmonis dengan Tuhan tentunya rasa rindu kepada Tuhan akan sangat besar. Dan niscaya, kita tidak akan merasa enggan untuk mudik ke ”kampung halaman” untuk bertemu dengan Tuhan. Namun ternyata sebagian dari kita masih enggan untuk ”pulang kampung”, bahkan ada yang takut ”mudik” ke rumah Tuhan. Mengapa ? Karena kita merasa bekal kita masih sedikit, amal kita masih senilai cepekan.
Jika orang rela berdesakan, dan bermalam di loket untuk mendapatkan tiket mudik, mengapa kita enggan berbondong-bondong ke Masjid atau Gereja atau Wihara atau Kelenteng untuk beribadah atau beriktikaf?
Jika orang rela membeli tiket yang melonjak 100%, mengapa kita enggan meningkatkan sedekah, infaq atau derma ?
Mungkin mulai sekarang kita harus mulai berbenah diri mulai menabung amal, mulai membina hubungan baik dengan Tuhan, sehingga pada saatnya nanti kita dengan senyum menaiki ”kereta” untuk mudik kehadirat-Nya.
Mengapa orang rela bersusah payah untuk mudik ke kampung halaman ? Daya tarik apakah yang membuat orang untuk ingin mudik ? Orang tua, kakek-nenek, saudara, teman lama, nostalgia mungkin menjadi salah satu alasan untuk mudik. Kalo sedikit kita renungkan, mungkin yang mendorong orang untuk mudik adalah hubungan yang indah dan harmonis antara pemudik dengan orang tuanya, kakek-neneknya, saudaranya, temannya dan kenangan yang indah dengan kampung halamannya.
Tanpa adanya hubungan yang harmonis maupun kenangan yang indah, saya kira orang akan enggan untuk mudik. Ngapain mudik kalo hanya untuk bertengkar dengan saudara atau membuka luka lama.
Seandainya kita mempunyai hubungan yang harmonis dengan Tuhan tentunya rasa rindu kepada Tuhan akan sangat besar. Dan niscaya, kita tidak akan merasa enggan untuk mudik ke ”kampung halaman” untuk bertemu dengan Tuhan. Namun ternyata sebagian dari kita masih enggan untuk ”pulang kampung”, bahkan ada yang takut ”mudik” ke rumah Tuhan. Mengapa ? Karena kita merasa bekal kita masih sedikit, amal kita masih senilai cepekan.
Jika orang rela berdesakan, dan bermalam di loket untuk mendapatkan tiket mudik, mengapa kita enggan berbondong-bondong ke Masjid atau Gereja atau Wihara atau Kelenteng untuk beribadah atau beriktikaf?
Jika orang rela membeli tiket yang melonjak 100%, mengapa kita enggan meningkatkan sedekah, infaq atau derma ?
Mungkin mulai sekarang kita harus mulai berbenah diri mulai menabung amal, mulai membina hubungan baik dengan Tuhan, sehingga pada saatnya nanti kita dengan senyum menaiki ”kereta” untuk mudik kehadirat-Nya.
Langganan:
Postingan (Atom)