Kamis, Agustus 31, 2006

Bang SMS siapa ?


Seminggu terakhir ini, saya sering denger lagu SMS diputar di mana-mana.
Liriknya biasa-biasa saja, standar, tetapi lucu apalagi sewaktu lihat video clipnya, wah lucu banget. Gue nemuin Clipnya di youtube.

Eh ternyata..sekarang udah ada jawaban SMSnya..
Wah...laris manis...tanjung kimpul.

Senin, Agustus 28, 2006

Dirgahayu Negriku


61 tahun sudah negriku Indonesia merdeka, terbebas dari belenggu penjajahan. Kemerdekaan Bangsa Indonesia ditebus oleh harta dan nyawa para Pejuang bangsa, bukan hadiah dari Penjajah. Sungguh berbeda dengan negri tetangga Malaysia, Singapura dan Brunei yang katanya memperoleh hadiah kemerdekaan dari sang Penjajah.

Jika kita bandingkan kondisi Indonesia dengan 3 negara tsb di era sekarang, maka akan terlihat betapa tertinggalnya Indonesia. Lantas apa bedanya kemerdekaan yang diberikan secara cuma-cuma dengan kemerdekaan yang didapat dengan perjuangan?
Mengapa yang heroik justru kalah dengan yang hadiah?
Apakah bangsa kita belum siap merdeka?

Sepertinya kemerdekaan hanya dinikmati oleh segelintir orang, sedangkan kehidupan rakyat masih tidak banyak berubah. Oknum pemerintah yang korup, dengan sadar membodohi rakyat, akibatnya rakyat tetap menderita di era kemerdekaan.

Saya jadi malu sendiri, modal kemerdekaan yang diperoleh dengan tetesan darah dan cucuran air mata, ternyata belum dapat saya manfaatkan dengan baik. Kemiskinan masih menghantui rakyat negri ini. Hutang Luar Negeri semakin bejibun, akibatnya hidup negriku tergantung sama kreditur. Lha ini khan bentuk lain dari penjajahan. Jadi sebenernya kita ini sudah merdeka apa belon sich ?

Sejatinya kita sudah Merdeka, namun mental kita masih lemah, setara dengan mental bangsa jajahan. Mari kita bangkit, tegakkan kepala, tatap masa depan dengan penuh keyakinan. Bersatu padu menyongsong masa depan yang lebih baik. Bulatkan tekad, satu kan segala potensi. Kita bisa lebih baik dari pada Malaysia, Singapura dan Brunei. Bahkan kita bisa melampaui Jepang dan Amerika. Hidup Indonesia. Jayalah Indonesia.

Merdeka! Merdeka!! Merdeka!!!

Senin, Agustus 07, 2006

Infotainment Haram?

Dalam seminggu ini, jagad hiburan Indonesia sedang diguncang oleh Fatwa Haram terhadap tayangan Infotainment yang dibuat oleh PBNU.
Dalam diskusi interaktif di SCTV yang sempet saya saksikan, salah seorang Ketua PBNU Prof. Dr. H. Said Agil Siradj, M.A. menyatakan bahwa sesungguhnya yang diharamkan adalah materi infotainment yang membeberkan aib keluarga.

Saya pribadi tidak setuju bila kasus perceraian terlalu diblow-up. Diberitakan sih boleh-boleh saja supaya masyarakat tahu bahwa si Anu sudah bercerai dengan si Ani, tetapi engga perlu sampai investigaasi penyebab perceraian secara mendalam, gak perlu pakai wawancara dengan sopir dan pembantu.

Nah yang agak kontroversi adalah masalah Selingkuh dan Kawin Siri. Menurut Pak Said Agil melakukan perbuatan selingkuh itu hukumnya "haram", begitu pula membicarakan perselingkuhan seseorang hukumnya juga "haram". Salah seorang peserta diskusi menyatakan bahwa pemberitaan mengenai selingkuh justru baik bagi masyarakat, agar tidak ditiru dan agar orang/ artis jadi takut berselingkuh.

Menurut saya perselingkuhan memang perlu diberitakan, supaya orang/artis tidak mudah bersumpah dengan menyebut nama Tuhan bahwa dia tidak berselingkuh, e....dikemudian hari ternyata terbukti.
Anda tentu mengenal Puspo Wardoyo, pemilik restoran Wong Solo, yang secara terus terang mengakui sebagai pelaku poligami. Lha emang kenapa takut, kan Islam menganut model poligami. Namun ternyata pelaku poligami kebanyakan pengecut, alias tidak berani menyatakan di depan publik.
Nah apakah salah kalo infotaiment melakukan investigasi atas artis/ tokoh yang melakukan kawin siri? Kalo sah mengapa takut ? Mari kita lihat kasus Bang Haji Rhoma Irama yang semula ngotot menyatakan tidak ada hubungan dengan Angel Helga...bahkan dengan menyebut nama Allah, ee..ternyata terbukti kawin siri. Kenapa malu Pak Haji ? Ha..ha...ha..pasti pendukungnya Inul puas, karena tahu bo'ongnya Pak Haji.

So, saya setuju kalo materi tayangan infotainment perlu dibatasi, namun jangan diharamkan, masih banyak hal hal positif yang dapat kita peroleh dari infotainment.
Lha wong Istri saya aza hobi baca tabloid Genie, Wanita Indonesia, Cek & Ricek, Bintang Indonesia, Nova)


Berikut ini dukungan terhadap Fatwa PBNU

FPPP Dukung Fatwa PBNU Tentang Hukum Haram Infotainmen
Senin, 7 Agustus 2006 10:14 WIB

Jakarta, NU Online
Fatwa haram infotainmen yang dikeluarkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus mendapat dukungan. Kali ini datang dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP). FPPP dengan tegas mendukung keputusan tersebut sekaligus akan menyosialisasikannya kepada masyarakat.

Dukungan tersebut disampaikan langsung Ketua FPPP Endin AJ Soefihara, di Jakarta, Senin (7/8). "Publik perlu merespons secara positif fatwa tersebut. Karena tujuannya untuk menghidupkan budaya kritis," katanya.

Endin, demikian panggilan akrab pria yang juga calon Ketua Umum PPP ini mengatakan, saat ini banyak masyarakat yang meniru gaya hidup glamor para selebritis akibat dari tayangan infotainmen tersebut. Padahal, lanjutnya, tidak semua dari yang ditayangkan itu dapat dicontoh.

"Kalau yang dicontoh itu baik-baik, tidak masalah. Tapi kalau yang dicontoh itu seperti budaya konsumtif, gaya hidup glamor dan berita cerai-cerai, itu bahaya untuk masyarakat," tambah Endin.

Fatwa hukum haram tayangan infotainmen dikeluarkan oleh PBNU setelah diputuskan dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung pada 27-30 Juli lalu di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur. Pengharaman itu atas dasar karena tayangan infotaimen lebih banyak mudharat-nya daripada manfaatnya.

Hal serupa juga dilakukan Dewan Pers. Mereka sepakat untuk melarang tayangan infotainmen yang menyesatkan.

Sebelumnya, sejumlah wartawan infotainmen dari berbagai media cetak dan elektronik mendatangi kantor PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta, (3/8). Kedatangan mereka untuk mengklarifikasi fatwa PBNU tentang hukum haram infotainmen tersebut.

Industri infotainmen yang saat ini sedang dalam masa jaya-jayanya merasa terganggu dengan fatwa itu. Para wartawan infotainmen menanyakan perihal keluarnya fatwa itu. (rif)

Rabu, Agustus 02, 2006

PPD Strike

On Tuesday, when I pass trough Jl. Sudirman from BEJ to my office, I got a traffic jam caused by PPD Bus Driver Strike which blocked the Trans Jakarta Lane. It was the second day of PPD Driver strike. As reported by Jakarta Post, the PPD Bus Driver was unpaid for more than 9 months. Even though I need more than an hour to reach my office and should take “ojek” with expensive fare, but I were not blamed the striking drivers. Why ? Because I only loss an hour and Rp. 30,000, it was too small comparing with the sorrow of PPD driver. Can you imagine how the PPD drivers live without salary for more than 9 months. How they pay thir children school fee and supply good nutrition for them.
I hope PPD drivers get their salary back soon so they can drive PPD Bus with good attitude.

Walah, it’s not easy to write in English.