Rabu, April 04, 2007

Kisah Raja dan Sumpit

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengarkan suatu acara yang menarik dari Radio Smart FM yaitu wawancara dengan Motivator Andrie Wongso mengenai Pentingnya Kebersamaan/Persatuan. AW menceritakan suatu kisah tentang seorang Raja di Tiongkok yang memiliki beberapa anak. Ketika dewasa para pangeran tersebut sering bertikai satu sama lain. Sang raja pun jadi suntuk memikirkan cara untuk mendamaikannya.

Suatu saat...pada saat makan bersama, Sang Raja meminta anaknya untuk mengambil sebatang sumpit dan mematahkannya. Crack..dengan mudah para anak raja mematahkan sebatang sumpit.
Selanjutnya Sang Raja meminta anaknya untuk mengambil 2 batang sumpit dan mematahkannya. Crack...mudah sekali 2 sumpit patah.
Kemudian Sang Raja meminta anaknya untuk mengambil 3 batang sumpit dan mematahkannya.
Crraaaack...dengan susah payah anak raja berusaha mematahkan 3 batang sumpit. tetapi...ada juga yang gagal.

Karena mendapat perintah yang aneh dari ayahnya, maka sang anak bertanya kepada ayahnya (Sang Raja) mengenai makna pematahan sumpit tersebut. Maka Sang Raja pun mejelaskan " Nak anaku, kalian telah membuktikan bahwa sebatang sumpit amatlah mudah untuk dipatahkan, namun jika beberapa sumpit digabung jadi satu...maka akan sulit dipatahkan. Hal ini juga berlaku bagi kalian. Jika kalian selalu bertikai satu sama lain..maka amatlah mudah bagi musuh untuk menghancurkan kita. Akan tetapi....jika kalian bersatu, maka tidak akan ada musuh/ kerajaan lain yang bisa menaklukkan kita".

Mendengar penjelasan Sang Raja...maka tersadarlah para pangeran akan kesalahan selama ini.

Wah..keliatannya gampang banget ya..solusinya. Sebenernya engga gampang juga, karena Sang Raja butuh waktu berhari-hari untuk mendapatkan jalan keluarnya.
Tetapi di zaman sekarang ini, dimana semua orang telah menyadari arti pentingnya kebersamaan dan persatuan, ternyata....masih saja sering terjadi perseteruan dalam keluarga, perusahaan bahkan di negri kita tercinta. Mengapa ?

Bisa jadi para "Raja-Raja" zaman sekarang telah berlaku adil dan bijak terhadap para anak buahnya/ bawahannya, namun karena ada perbedaan nilai/cara pandang antara para anak buah dan raja, maka kebijakan Raja yang adil menjadi tidak adil. Nah kalo keadaannya seperti ini, maka si anak buah harus dibuka pikirannya supaya tidak salah pengertian.

Ketidak-akuran juga bisa terjadi karena tindakan Raja yang pilih kasih atau Cerji (cecer siji). Hal ini tentu saja akan meimbulkan iri hati dan ketidakharmonisan dalam berkarya. Nah. kalo ini sih...yang harus di-benerin ya Rajanya.

Jadi sebenernya, untuk menyelesaikan suatu masalah, jangan hanya melihat permasalahan yang ada di permukaan, tetapi perlu ditelaah lebih dalam mengenai sumber/ penyebab permasalahannya. Dengan demikian solusi yang diperoleh dijamin lebih tokcer.

2 komentar:

lierieh mengatakan...

Coba tuh pangeran suruh patahin besi, ntar tanggapan raja gimana? makasih ya dah berkunjung ke rumahku. oh nawarin kerja ya boleh juga tuh dicoba lagi hehe...

NiLA Obsidian mengatakan...

setuju om harrie.....

beda jaman, analisa utk mencari jalan keluar juga butuh pendalaman yg lebih baik lagi....ga bisa cuman luarnya aja....
di gali sampe ke akar pun belum tentu berhasil kho....